catatan hati

Januari 15th, 2010

Maaf… Untuk Sebuah Keputusan…

Posted by meutias in renungan

Jalanan basah….

Cahaya lampu berpendar diantara titik-titik air hujan yang luruh.

Senyap….. tercium aroma kota di dada malam.

Samar langkah kaki seorang sahabat masih belum juga berhenti, tiba di persimpangan yang pelik….

Entah karena apa tiba-tiba angin mendoyongkan tubuhnya hingga jejaknya tak lagi kokoh. kemudian dia terjerembab!!!

Gustiiiiiii……tangannya sempat tersentuh, kuraih dalam diam yang indah.

Sesaat saja, karena sedetik kemudian aku tak kuasa menahan beratnya.

Kalau sekarang ia terjerembab di hadapanku, itu karena beban yang tak ringan.
Kukenakan jubah hitam tuk mengenang duka yang terkembang.

Dini hari aku berkemas meninggalkan kota.

Menjauh….dari masa lalu yang sesak oleh cerita.

Tuhan pun mengerti kukira…

Bukan karena hati lelah ingin mengubur semua cerita

Namun jejakku harus tergambar di kaki langit yang jauh sampai nanti saat senja datang dan luruh

Akan ada khidmad yang agung pada akhirnya.

MAAF….. untuk keputusan yang tak mudah ini, Kawan!?

Kuyakin pada jiwa!

Biarkan cerita tentang kesetiaan akan dihembus angin yang semilir hingga sampai pada muara kehidupan.

KEKAL DALAM KUASA TAKDIR!!!

kuletak potongan hati di pekuburanmu kawan

Kamboja yang luruh… ia akan kubawa bersama ratus yang semerbak.

Setiap pagi biar kuletak dijendela kamarku uang baru.

Agar terus tercium aroma kesunyian yang panjang.

Januari 15th, 2010

Hening Untuk Sesuatu Yang Bermakna

Posted by meutias in puisi  Tagged

Ceritalah saja pada udara pagi yang bersih, tentang kasihmu yang tak sampai.

karna pada akhirnya angin akan membawanya ketengah samudra tuk ia gemakan dalam jiwa yang angkuh….

Percayakan saja lukamu pada Sang Pencitra Yang Maha Segala, Keluhlah… keluh sayatan yang perih dibibir malam yang hening. Akan ada damai yang tergenggam olehmu.

Kalau kau bagi deritamu pada kawan, ia akan bercerita panjang lebar tentang cara bersabar.

Jika kau basahi bahu temanmu dengan air mata yang kau punya… ia akan mengeringkannya diantara teriknya kekacauan hidup.

Buat saja dirimu bijak

Diamlah….

telan semua getir yang kau punya

Ceritalah saja pada Sang Pencitra Tunggal

Ia punya segala, juga Cinta!

Ia bahkan kekal dalam aliran darah, gumpalan daging dan benak kita

Kenapa harus menjauh…??????

Tak kau mungkin ingkari Ada-Nya!